Hujan Es di Surabaya, Mengingatkan Tentang Pengalaman Tersesat di Gunung Ungaran

Hujan Es di Surabaya, Mengingatkan Tentang Pengalaman Tersesat di Gunung Ungaran
6

Lagi iseng buka Google Trends hari Rabu lalu. Salah satu topik yang membuat saya tertarik adalah hujan es di Surabaya. Alasannya, saya pernah mengalami hujan es sewaktu mendaki Gunung Ungaran pada tahun 2004. Apalagi pada waktu itu, saya dan teman-teman sekolah saya tersesat pada perjalanan turun dari puncak Gunung Ungaran menuju Candi Gedong Songo.

Usut punya usut, seseorang telah iseng mengubah papan petunjuk arah. Papan petunjuk berbentuk panah yang harusnya menuju ke arah kanan, diputar menjadi ke arah kiri! Kebetulan pula di waktu itu, 2 orang teman kami yang sudah berkali-kali mendaki Gunung Ungaran sedang tertinggal di belakang karena suatu hal. Jadi kami yang masih newbie ini dengan lugunya mengikuti arah petunjuk jalan.

Kisah ini merupakan salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Sekitar 12 orang pendaki pemula, tersesat di Gunung Ungaran secara berjamaah. Berkat berita hujan es di Surabaya, saya jadi teringat kisah lama ini. Kok jadi berasa udah tua kali ya?

Sebelum berangkat nihh! Masih di kosan.
Sebelum berangkat nihh! Masih di kosan.

Ketika kami mulai lelah menuruni jalan yang curam dan hutan yang lebat, kami mulai curiga tentang jalur yang kami lewati ini. Lagian, 2 teman kami yang di belakang kok ngga menyusul juga. Padahal mereka kalau jalan bukannya pelan.

Lama kelamaan, hutan semakin rimbun, pepohonan mulai rapat dan sinar matahari tidak sanggup menembus rimbunnya dedaunan. Jalan setapak yang kami lalui pun semakin menghilang. Keraguan mulai menggelayuti pikiran kami. Lalu kamipun memutuskan untuk berhenti dan beristirahat sejenak. Perbekalan pun mulai menipis, terutama air. Padahal memang ngga bawa apa-apa selain air, mie dan kopi instan. Anak kos mode: ON.

Saya yang sebelumnya sudah pernah satu kali mendaki di sini pun mulai ragu juga kalo jalur ini adalah jalur yang tepat. Seingat saya jalur turun itu landai, bukan curam seperti ini.

Setelah berdiskusi ringan dengan teman-teman, kami memutuskan untuk tetap turun mengikuti jalur yang ada, yang entah ke mana akan membawa kami. Daripada lelah jalan balik ke atas. Tujuannya turun ya ke bawah, sesimpel itu pikiran kami.

Kekhawatiran mulai melanda

Ini pas mendaki ke puncak, belum tau kalo bakal tersesat di Gunung Ungaran
Ini pas mendaki ke puncak, belum tau kalo bakal tersesat di Gunung Ungaran

Di tempat istirahat yang agak lembab ini, beberapa teman mulai panik. Sebagian meracau bilang ngga ingin mati lah, yang masih perjaka lah dan segala macam lainnya. Yang hari-hari pendiam jadi ikutan cerewet. Ada juga yang mulai saling menyalahkan. Keadaan seperti ini memang bisa memperlihatkan identitas dan sifat seseorang sesungguhnya. Tapi walaupun begitu, teman adalah teman.

Ada lagi seorang teman yang bikin semua orang jengkel. Di saat yang lain sibuk panik, dia malah boker! Persediaan air yang udah menipis malah dipake buat cebok! Sialan bener dah ah. Padahal banyak daun di mana-mana. Sekarang ini kalo inget sih ketawa aja, kalo dulu udah mau dibantai anaknya.

Kaki seorang teman sudah lecet parah karena memakai sepatu tanpa kaos kaki. Baru hendak melangkah melanjutkan perjalanan, seorang teman agak terpekik memberitahu bahwa kakinya dihinggapi lintah. Segera, kami pun mengecek kaki masing-masing. Alhamdulillah kaki saya ngga ikutan dicumbu lintah, padahal pake sandal jepit dan celana pendek. Beberapa teman lain mengalami hal yang sama.

Ngatasin lintah yang udah terlanjur menempel ini memang agak tricky. Kalo langsung dicabut, berbahaya juga karena darah akan mengucur. Beruntung ada yang bawa garam. Teringat pesan mama, kalo kena tempel lintah, kasih aja garam biar dia lepas. Tujuannya adalah biar lintahnya sadar diri dan melepaskan cumbuannya.

. . .

Beberapa saat setelah kami melanjutkan perjalanan, harapan mulai muncul ketika hutan telah berakhir dan cahaya matahari mulai menyapa menyeruak melalui bibir hutan. Yang tambah bikin lega, kami bertemu dengan pendaki lain yang ternyata ikut tersesat di Gunung Ungaran karena mengikuti petunjuk arah. Mereka terlihat lebih siap daripada kami karena mereka punya kompas dan sedang menentukan arah.

Ada dua jalur bercabang di bibir hutan tersebut. Lanjut turun dengan jalur yang agak curam, atau belok ke kanan yang jalannya lebih landai. Teman-teman pendaki yang kami temui memutuskan untuk turun melanjutkan jalur sebelumnya. Sedangkan kami mengambil jalur kanan, mengingat jalur yang seharusnya kami ambil sejak tadi adalah jalur kanan. Kami pun berpisah.

Di jalur ini, jalanan mulai landai dengan pemandangan yang menakjubkan, sehingga kekhawatiran kami mulai mereda. Di kejauhan, terlihat sebuah peradaban yang kami rindukan walau baru beberapa jam salah jalan.

Kini tinggal menentukan arah. Waktu menunjukkan pukul 2 siang dan air benar-benar habis. Dengan sisa tenaga yang ada, kami melanjutkan langkah kami dengan gontai. Kami mulai menemui ladang, walau tak ada seorang pun di sana.

Jurang pemisah

Ilustrasi jurang, sumber tertera
Ilustrasi jurang, sumber tertera

Beberapa ratus meter kemudian, langkah kami terhenti. Serempak, kami semua melongo. Jurang besar memisahkan langkah kami dengan daratan di seberangnya. Rasanya ingin teriak, marah! Berasa sia-sia perjalanan yang kami lakukan. Sebagian diri saya pun menyesal kenapa ngga ikut rombongan tadi.

Read More Post
1 of 26

Merasa tertipu dengan suguhan pemandangan indah sebelumnya, adu mulut terjadi. Saya memilih diam.

Lelah adu mulut, kami menyusuri mulut jurang yang menganga lebar. Berharap menemukan jalan keluar. Harapan mulai muncul ketika kami melihat seseorang keluar dari tepi jurang, sedikit demi sedikit menampakkan wujudnya. Seorang bapak-bapak! Dan confirm itu manusia.

Bapak tersebut adalah seorang peladang. Dari beliaulah kami mendapatkan jalan keluar untuk melewati jurang ini. Jalan yang beliau tunjukkan adalah sebuah jalan setapak selebar 1 meter menuruni tebing yang berbatasan langsung dengan jurang. Jalanan ini memutar mengitari lembah menuju dataran seberang. Selepas berterima kasih, kamipun melanjutkan perjalanan.

Dengan sangat berhati-hati, kami pun mulai melangkah. Kami berjalan beriringan. Ada satu orang teman yang takut melangkah karena khawatir jatuh, dan sedikit takut ketinggian. Dengan segala bujuk rayu, kami pun meyakinkannya walau dengan syarat tas dia harus dibawain. Manja betol!

Ilustrasinya seperti ini, tapi tanpa pepohonan. Sumber: panoramio
Ilustrasinya seperti ini, tapi tanpa pepohonan. Sumber: panoramio
Ilustrasi lebaynya seperti ini
Ilustrasi lebaynya seperti ini

Setapak demi setapak kami lewati hingga ke ujung pertemuan jalan antar patahan, lalu menuju ke sisi lembah satunya. Namun, alam rupanya masih ingin bermain-main dengan kami. Awan mendung mulai berkumpul dan menggantung di langit. Perlahan namun pasti, cuaca cerah mulai berganti gelap.

Tak ingin terjebak hujan di celah ini, langkah kamipun mulai memburu. Akan sangat beresiko apabila kami mendapat jatah hujan di sini.

Air mulai turun setitik demi setitik ketika kami hampir mencapai jalan keluar. Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, kami pun bersorak sorai ketika berhasil melewati jurang tersebut. Ditambah lagi, sayup-sayup terdengar kumandang adzan Azhar di kejauhan yang menandakan kami berada di jalan yang benar.

Jalan yang kami lalui pun berubah menjadi ladang-ladang yang mungkin milik warga sekitar. Kami berjalan agak santai walau rintik air menyapu wajah kami. Seger banget rasanya.

Hujan es menyerang

Baru saja kekhawatiran mulai hilang, kami dikagetkan dengan kilatan petir yang menyambar sebuah pohon kira-kira sekitar 750 meter dari tempat kami berjalan. Selang beberapa detik, suara menggelegar memecah keheningan siang itu. Tanpa dikomando, kami pun mulai lari sekencang-kencangnya, lupa akan lelah yang sudah melanda. Saya aja sampe lupa kaget, langsung cuss meluncur!

Selagi mendadak sprint bareng, hujan pun mulai turun. Awalnya hujan biasa saja. Lama-kelamaan makin deras dan sakit ketika mengenai kepala. Sakit? Ya! Macam dilempar batu! Tapi kami tetap ngga berhenti, ngga sempat lagi untuk penasaran kenapa setitik hujan begitu sakit ketika mengenai kepala.

Yah, daripada jadi korban petir salah sasaran! Hamparan tanah begitu lapang, sehingga kami termasuk menjadi salah satu grounding point paling tinggi, alias jadi penangkal petir.

Beberapa ratus meter kemudian, kami menemukan sebuah gubug dan segera menuju ke sana. Setelah kami semua berlindung di bawah gubug, saya baru sempat mengamati bahwa ternyata hujan yang sedang terjadi bukanlah hujan biasa, melainkan hujan es. Dan yang turun memang betul-betul es batu rata-rata berukuran kira-kira 1 cm. Pantesan sakit semua badan saya!

Ilustrasi Hujan es di Surabaya. Sumber, Liputan 6
Ilustrasi Hujan es di Surabaya. Sumber, Liputan 6

Kembali ke soal hujan es di Surabaya, menurut BMKG (Badan Metorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Juanda, hujan es di Surabaya berasal dari awan Cumulonimbus (CB). Berbeda dari biasanya, awan CB sore tadi (8 Maret 2017) di Surabaya lebih besar dari biasanya sehingga muncul butiran air. Air es itu kemudian jatuh bersama air hujan. Saat jatuh, es itu belum sempat mencair.

Mungkin waktu itu penyebabnya sama seperti hujan es di Surabaya yang terjadi hari Rabu lalu. Sungguh fenomena alam yang tak terlupakan buat saya.

Kehausan, kami pun berinisiatif mengumpulkan es tersebut ke botol air yang telah kandas untuk mengobati rasa haus kami. Hujan es ini berlangsung sebentar saja sekitar 15 menit, lalu kembali gerimis normal. Enggan menunggu terlalu lama, kami melanjutkan perjalanan.

Hanya sekitar 15 menit berjalan, kami sudah sampai di persimpangan jalur keluar yang sesungguhnya. Alhamdulillah akhirnya sampai juga! Kami pun menyusuri jalur tersebut yang berakhir di komplek Candi Gedong Songo.

Ternyata dulu udah doyan foto walau... Ah sudahlah.. Anyway, ini setelah lepas dari tersesat di Gunung Ungaran
Ternyata dulu udah doyan foto walau… Ah sudahlah.. Anyway, ini setelah lepas dari tersesat di Gunung Ungaran

Lelah, letih, lecet dan lapar sudah tak saya hiraukan. Prioritas utama adalah pulang! Saya dan teman-teman tidak lagi berhenti untuk sekedar mencari makan atau beristirahat. Tapi sempet foto beberapa kali! Setelah itu, kami langsung turun untuk mencari bus dan segera pulang ke rumah kos yang semrawut tapi bikin kangen. Tak sempat lagi kami mau nyari gratisan dengan cara numpang truk, atau yang kami sebut dengan rewo-rewo.

- Matched Content -

You might also like
6 Comments
  1. Hahahahahaa…aku ga fokus ama ceritanya, fokus ama fotonya.. ternyata mas Akut pernah imut2 gimana gitu di masa muda yak. wkwkwkwk..udah ah bye

    1. Akut Wibowo says

      Hayah..
      Bhay!

      Wkwkkk

  2. Nusantara Adhiyaksa says

    Ternyata sesi Foto nya gak lupa ia, buat kenangan … wkwkwkkw
    Awassss lo mas bro ngak boleh jahil …

    1. Akut Wibowo says

      Ampuun masbro, bukan kami yang jahil..
      Kami korban.. Hiks!

      Foto jadul bro..
      Hahaha

      Asli nostalgia banget..

  3. Robbi says

    Ih … bahaya itu iseng nya sampai menyesatkan pendaki

    1. Akut Wibowo says

      Jahil bener deh, asli!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More